Kepemimpinan Nehemia


MENJADI PEMIMPIN ‘FINISHER’

Gaya Kepemimpinan Nehemia

(Neh 1:3; 2:5; 6:15)

 

Oleh: Herry Darmono, MA

 

Memasuki abad 21 ini perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang sangat cepat. Perkembangan ini membawa kehidupan manusia menjadi lebih mudah di segala bidang secara jasmaniah. Namun sangat disayangkan bahwa perkembangan ini tidak diimbangi dengan pembangunan moral secara baik. Bahkan kehidupan moral manusia mengalami kemerosotan yang sangat tajam munju kepada titik level kehancuran.

 

Hal ini terlihat dalam berbagai peristiwa baik dalam skala kecil maupun besar yang terjadi hampir di semua belahan dunia, seperti peristiwa sabotase atas gedung World Trade Center oleh teroris di kota New York, Amerika Serikat yang membawa korban jiwa 5000 lebih; peristiwa kerusuhan rasial Mei 1998 di Jakarta. Belum lagi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti kasus perceraian, narkoba, pelacuran, perjudian, dan kriminalitas dengan tindak kekerasan. Semua ini menimbulkan catatan sejarah kehidupan manusia yang sungguh sangat kelam dan menyedihkan, yang akan selalu diingat sampai kepada generasi yang selanjutnya.

 

Siapakah yang bertanggung jawab atas segala kemerosotan dan kehancuran moral ini? Kalau kita memandang dunia sebagai suatu sistem yang terpadu, maka jawabannya adalah semua orang. Tetapi mesti diingat bahwa suatu sistem yang terpadu pasti memiliki motor penggerak, seperti sistem dalam tubuh kita yang memiliki otak. Dimana otak inilah yang menjadi pusat perintah yang menjalankan semua anggota tubuh kita. Bila otak tidak berfungsi dengan baik maka seluruh sistem akan menjadi kacau balau.

 

Demikian juga bila seorang pemimpin tidak berfungsi dengan baik, maka akan terjadi kekacau-balauan di dalam sistem tersebut sehingga mengakibatkan kemerosotan dan kehancuran moral seperti yang disebut sebelumnya. Karena itu, dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang tangguh dan berintegritas tinggi untuk membawa perubahan dan pembaharuan didalam kehancuran moral ini.

 

Sayangnya, pada saat ini kita sedang mengalami krisis kepemimpinan, dimana bukan karena kekurangan sumber daya manusia, melainkan dikarenakan sedikitnya pemimpin yang dapat menjadi ‘finisher’[i]. Kejatuhan pemimpin kristiani yang terkenal seperti James Bakker dan Jimmy Souigard dari Amerika adalah suatu bukti dalam skala besar akan banyaknya pemimpin yang dapat memulai segala sesuatu dengan sangat baik tetapi sangat sedikit yang berhasil mengakhiri sesuatu tersebut dengan baik. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika tetapi hampir diseluruh penjuru dunia termasuk di Indonesia. Hanya kalau di negara kita, budaya timur masih kuat mengakar dalam masyarakat, maka banyak masalah kejatuhan pemimpin yang masih sering belum tereksposkan seperti di Amerika.

 

Kita perlu belajar dari keberhasilan kepemimpinan Nehemia, agar dapat menjadi pemimpin yang tidak menambah daftar kejatuhan pemimpin menjadi lebih panjang. Ia  adalah salah satu tokoh pemimpin yang layak untuk dipelajari bukan disebabkan keberhasilan model kepemimpinannya saja, tetapi juga dikarenakan Nehemia hidup dijaman yang memiliki banyak persamaan dengan jaman sekarang. Yaitu pada jaman dimana orang Israel sedang mengalami permasalahan multi dimensi yang sangat berat seperti krisis kepemimpinan dan hancurnya tembok Yerusalem. Hal yang luar-biasa dalam keadaan yang tidak berpengharapan, namun Nehemia berhasil menyelesaikan pembangunan kembali tembok Yerusalem dalam waktu 52 hari.

 

Keberhasilan Nehemia yang ditulis oleh sejarah ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, tetapi merupakan hasil kerja dan komitmen Nehemia dalam mewujudkan impiannya. Sebagaimana seperti yang dituliskan seorang ahli filsafat yang tidak dikenal bahwa: tidak ada suatu kegagalan yang terjadi dengan kebetulan, demikian juga tidak ada keberhasilan yang terjadi karena tanpa sebab.

 

Apa yang menyebabkan Nehemia berhasil menjadi pemimpin ‘finisher’?

Sesungguhnya banyak faktor kepemimpinan yang menjadikan Nehemia berhasil menjadi pemimpin ‘finisher’. Namun dari begitu banyak faktor terdapat dua faktor yang sungguh sangat penting dan menarik untuk dipelajari. Karena dua faktor ini yang sering menjadi penyebab mengapa banyak pemimpin tidak berhasil menjadi ‘finisher’, atau dengan kata lain mengalami kegagalan dan bahkan berhenti ditengah jalan .

  

NEHEMIA MENGATUR DUNIA PRIBADINYA

Nehemia adalah seorang pemimpin yang memiliki kedisiplinan yang tinggi dalam mengatur dunia pribadinya. Ini terlihat ditengah-tengah segala kesibukannya membangun tembok Yerusalem ia tetap memiliki waktu untuk berdoa (Neh 1:4; 4:4; 5:19; 8). Seorang pemimpin harus dapat mengatur kehidupan pribadi secara spiritual maupun fisik. Kalau hal ini tidak terpenuhi maka akan membahayakan dirinya, keluarga, pelayanan, dan pengikutnya.

 

Raja Daud adalah suatu bukti yang nyata. Ia adalah pemimpin yang sangat dikagumi, karismatik, berani, sangat bertalenta, dan bahkan merupakan pemimpin pilihan Allah sendiri. Semua ini hanya terlihat baik dipermukaan saja tetapi didalam sesungguhnya sangat rapuh. Kerapuhan ini dikarenakan kegagalan Daud dalam mengatur dunia pribadinya. Ia telah salah dalam mengatur waktunya. Raja Daud lebih memilih berada di Yerusalem dan mengirim panglimanya daripada pergi berperang pada musim raja-raja berperang. Berawal dari sinilah Daud mengalami kejatuhan moral didalam perzinahan dengan Batsyeba yang mengakibatkan kehancuran dalam kehidupan Daud, baik atas keluarga, pengikut maupun bangsanya[ii].

 

Gordon Mac Donald didalam bukunya ‘Ordering Your Private World menceritakan tentang bahwa penduduk Florida suatu hari terkejut dengan kejadian yang menakutkan akan bagaimana tanah didepan mereka menjadi  runtuh dan berlubang yang besar secara tiba-tiba. Rumah, jalan, dan mobil secara tiba-tiba menjadi runtuh ke dalam lubang tersebut. Setelah diselidiki ternyata kejadian tersebut disebabkan oleh alur bawah tanah yang sangat kering karena musim kemarau, sehingga  tanah dipermukaan kehilangan penopang dan menjadi lemah[iii]. Demikian juga dengan pemimpin yang luar-biasa atau yang sebesar apapun bila tidak dapat mengatur waktunya dengan bijaksana, akan secara tiba-tiba mengalami kegagalan dan kejatuhan yang sangat menghancurkan kehidupannya (Efe 5:16).

 

 

“BEWARE OF THE BARRENNESS OF A BUSY LIFE”

Fred Mitchell, World Mission.

  

Ciri-ciri orang yang tidak dapat mengatur dunia pribadinya adalah:

1.   Rumah, kantor, dan mobil yang berantakan.

2.   Ada serial keterlupaan seperti: janji pertemuan, membalas telepon, deadline tugas.

3.   Sering merasa jelek atas pekerjaannya sendiri.

4.   Tidak memiliki serta mampu menikmati hubungan yang dekat dengan Tuhan

5.   Hubungan pribadi dengan sesama (keluarga, teman, dan pasangan hidup) sangat lemah.

 

LIMA TIP PENTING UNTUK DAPAT MENGATUR WAKTU:

1.   Ketahui apa yang menjadi sasaran anda.

-     Nehemia (Neh 2:5)

-     Yesus (Luk 19:10)

2.   Tetapkan prioritas yang sesuai dengan sasaran anda (Sabatikal, keluarga, pekerjaan / karir/sekolah, pelayanan, hiburan, lain-lain)

3.   Membagi pekerjaan yang besar menjadi kecil, dan kerjakan bagian demi bagian.

4.   Jangan suka menunda pekerjaan yang belum terselesaikan.

5.   Belajar untuk mengatakan tidak kepada sesuatu yang tidak sesuai dengan prioritas anda.

 

 

NEHEMIA MEMBANGUN JARINGAN MITRA PENDUKUNG

 

Superman adalah tokoh komik yang selalu menang dan sangat terkenal diseluruh dunia. Di mana ia selalu tampil sendiri dan tidak pernah memiliki teman sekerja dalam melakukan tugas yang besar yaitu sebagai pembasmi kejahatan. Banyak pemimpin yang pada saat ini telah terjangkiti dengan sindrom superman yaitu merasa serba bisa dan paling hebat sehingga tidak membutuhkan orang atau organisasi lain dalam menjalankan misinya. Padahal mesti di ingat bahwa superman hidup didunia khayalan sedangkan kita hidup didunia yang nyata. Suatu dunia dimana Allah telah menetapkan kita sebagai mahkluk sosial yang saling membutuhkan dan memiliki ketergantungan satu sama lain (Kej 2:18; Pengkhotbah 4:9-10).

 

Kepemimpinan Musa adalah sebuah contoh kepemimpinan superman yang menjadi sumber kegagalan. Bahkan membuat Musa sangat frustasi dan ingin mati. Sampai Allah sendiri kemudian yang mengajarkan model kepemimpinan yang membangun jaringan mitra pendukung (Bil 11:15-17).

 

Jembatan Golden Gate di San Francisco yang sangat terkenal diseluruh dunia karena keindahannya, ternyata adalah juga jembatan yang sangat kokoh karena tidak runtuh ketika terjadi gempa bumi besar. Letak kekuatannya ternyata ada pada dua kabel besar berdiameter 73 cm yang menopang jembatan ini. Dan kabel besar itu sendiri berisikan jaringan lebih dari 17.664 kabel kecil berdiamater kurang dari 1 cm, yang kalau semuanya dibentangkan panjangnya 3 kali keliling bumi. Prinsipal jaringan seperti jembatan inilah yang dilakukan oleh Nehemia untuk menyelesaikan visi dan misi dalam hidupnya. Sehingga ia berhasil membangun tembok Yerusalem yang telah runtuh ditengah krisis multi dimensi.

 

Nehemia bermitra serta melibatkan sebanyak mungkin lapisan masyarakat yang ada pada jamannya (Neh 1-3) sebagai jaringan pendukung untuk mencapai tujuannya. Orang-orang tersebut dari berbagai macam pekerjaan, jabatan, usia, jenis kelamin, suku dan bangsa, seperti: imam, raja, bupati, militer, tukang-tukang ahli, pedagang, orang-orang Yahudi, maupun dari kota atau bangsa lain. Semua orang yang terlibat didalam jaringan pendukung ini dapat dikelompokkan menjadi sbb:

  1. Jaringan Pendukung Dari Dalam / Orang Yahudi
  2. Jaringan Pendukung Dari Luar / Non Yahudi

 

Keberhasilan Nehemia membangun jaringan atas bangsanya sendiri adalah suatu gambaran akan pentingnya seorang pemimpin untuk membangun jaringan sumber daya didalam organisasi yang dipimpinnya. Keberhasilan didalam mengembangkan sumber-daya akan membuat organisasi tersebut menjadi kuat didalam menghadapi tantangan yang seberat apapun.

 

Pemimpin yang tidak mampu membangun jaringan pendukung dari luar, akan membuat organisasi yang dipimpinnya tidak berkembang atau stagnasi. Karena itu Nehemia mengembangkan jaringan dengan orang-orang non Yahudi untuk dapat membangun tembok Yerusalem yang runtuh itu.

 

Kedua jaringan tersebut diatas sangat kuat terkait dan bahkan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam sebuah kepemimpinan. Kegagalan dalam membangun dua jaringan tersebut akan menjadikan seorang pemimpin gagal untuk menjadi ‘finisher’.

 

 

The Point You Stop Learning is the Point You Stop to be Finisher

 

Hidup ini ibarat sekolah atau pertandingan , orang yang rajin belajar atau berlatih akan lulus atau menang dengan baik. Demikian juga apabila seorang pemimpin mulai berhenti belajar dan berlatih, maka pada saat itulah sesungguhnya awal kegagalan pemimpin tersebut untuk menjadi seorang ‘finisher’. Ingat sudah sangat banyak pemimpin di dunia ini, tetapi hanya sedikit dari mereka yang menjadi ‘finisher’ seperti Nehemia. Dibutuhkan Nehemia abad 21 untuk membangun tembok Yerusalem versi abad 21 yang adalah tembok moral kehidupan yang telah hancur lebur.

 

Karena itu ada tiga hal yang menjadi pertanyaan bagi kita semua:

  1. Apakah kita sekarang ini adalah tipe pemimpin ‘finisher’ seperti Nehemia?
  2. Kalau bukan, apakah kita mau belajar untuk dapat menjadi pemimpin ‘finisher’ seperti Nehemia?
  3. Kalau ya, apakah kita mau membayar harga dengan mahal untuk mencapai garis akhir sebagai pemimpin ‘finisher’?

 

“Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun,

asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan

yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku

untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”

 

Kis 20:24

 

 

 

 

 


[i]  Alasan penggunaan kata ‘finisher’ dikarenakan belum ditemukan kata yang paling tepat dalam pembendaharaan bahasa Indonesia. Terminologi ‘finisher’ berasal dari kata: ‘finish’: garis akhir; dan ‘er’: biasanya adalah suatu terminologi untuk menerangkan keadaan seseorang yang melakukan sesuatu yang diulang-ulang dan ahli dibidangnya. Seperti ‘basket ball player’: pemain bola basket. Definisi ‘finisher’ adalah seorang yang selalu dapat menyelesaikan pekerjaan yang sedang dilakukan  sampai selesai dengan baik.

[ii] Baca 2 Sam 12 – 24 untuk mengetahui dengan lebih jelas akan sebab dan akibat yang dialami oleh Raja Daud

[iii]  Gordon Mac Donald, Ordering Your Private World (Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1985), hal 13-14

Be the first to review this item!


Bookmark this

14 Apr 2018


By Herry Darmono, M.A.