Komunikasi, Bukan Hanya Sekedar Kata-Kata (2)


Komunikasi, Bukan Hanya Sekedar Kata-Kata (2)

Beraneka ragam cara berkomunikasi telah penulis jelaskan dalam tulisan penulis minggu lalu yang di tayangkan dengan judul "Komunikasi, Bukan Hanya Sekedar Kata-Kata (1)". Hari ini penulis ingin melanjutkan apa yang telah penulis mulai jabarkan minggu lalu dengan satu pertanyaan yang ada dalam alam pikiran penulis yaitu, "Peran Serta Bad Day Dalam Komunikasi". Sebelum penulis melanjutkan tulisan ini, penulis ingin bertanya kepada Anda sekalian yang membaca artikel penulis hari ini, apakah "Bad Day" (Hari Buruk) itu sesungguhnya ada? Bukankah Tuhan yang menciptakan semua hari (Senin sampai Minggu) mengatakan bahwa hari-hari yang diciptakanNya baik adanya? Kalau Tuhan yang menciptakan semua hari mengatakan baik adanya, dari mana datang pernyataan Hari Buruk itu? Apakah harinya memang buruk, atau masalah yang dialami orang bersangkutan tanpa solusi yang nyata menimbulkan pernyataan Hari Buruk? Harinyakah yang buruk atau orang yang mengalami sedikit gangguan atau masalah pada hari tersebut memberikan label kepada hari tersebut sebagai buruk atau bad day. Dengan demikian kita memisahkan dua sudut pandang, dimana hari tetap baik karena diciptakan Tuhan, orang yang memandangnya yang sedang mengalami masalah. Jadi bukan hari tapi manusianya.

Apakah "Hari Buruk" ini mempunyai kuasa sedemikian rupa sehingga dapat mempengaruhi pola komunikasi dalam keluarga? Jika anda mengikuti perasaan murung Anda karena masalah yang Anda hadapi di kantor misalnya dan melampiaskan kejenuhan Anda, kemarahan Anda, kemurungan Anda pada anggota keluarga dengan komunikasi yang tidak jelas ujung pangkalnya, bukankah Anda sedang berkata bahwa Anda tidak bertanggung jawab terhadap sikap Anda terhadap keluarga? Bukankah Anda juga sedang menyampaikan pesan bahwa sesungguhnya anggota keluarga Andalah yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah yang Anda hadapi? Bukankah Anda sedang berkata tolong saya dimengerti karena saya sedang mengalami "Hari Buruk"? Dengan demikian lagi dan lagi Anda sedang berkata bahwa Anda tidak bertanggung jawab terhadap sikap Anda tapi "Hari Buruk"lah yang bertanggung jawab terhadap sikap Anda sehingga anda bersikap seperti Anda bersikap. Apakah benar demikian?

Mari kita renungkan sejenak tentang "Hari Buruk" atau "Bad Day" ini. Apakah selama delapan jam dikantor Anda mengalami masalah dengan rekan sekantor atau dengan pimpinan Anda? Jika Anda jujur mungkin perlakuan kasar dari rekan atau pimpinan Anda hanya berlangsung selama lima menit. Sisa dari waktu yang lebih dari tujuh jam baik adanya. Bagaimana Anda dapat memberikan label "Bad Day" terhadap hari yang Anda lewati yang mayoritasnya baik adanya. Bukankah harinya sendiri tetap baik adanya (konstan), cuma pengalaman yang Anda alami pada hari itu kurang baik adanya. Anda tidak berkuasa untuk mengontrol perilaku orang lain tapi Anda berkuasa penuh bagaimana meresponi perilaku orang lain terhadap Anda. Anda bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perilaku Anda.

Saat dikantor Anda menduduki jabatan sebagai pegawai, saat dirumah posisi Anda berubah menjadi isteri, suami, anak, adik atau kakak. Anda berkewajiban berperilaku seperti posisi Anda saat Anda berada dirumah, Anda tidak dapat berkomunikasi secara kasar dengan memberikan alasan "Saya Sedang Mengalami Bad Day". Selanjutnya Anda mempunyai tanggung jawab untuk tidak membawa pulang masalah yang ada dikantor dan melemparkannya pada anggota keluarga yang tidak ikut terlibat dalam masalah yang ada. Sebaiknya Anda mempersiapkan diri Anda dengan berpikir secara jelas sebelum masuk kedalam rumah bahwa posisi anda dirumah bukanlah atasan yang berhak membentak-bentak anggota keluarga Anda. Jangan jadikan anggota keluarga anda korban kemarahan Anda / korban frustasi Anda dengan melemparkan tanggung jawab kepada "Bad Day" Anda, seakan-akan "Bad Day" lah yang bertanggung jawab terhadap sikap Anda dan bukan Anda selaku pelakunya. Komunikasi yang jelas berdasarkan kasih akan menimbulkan keharmonisan dalam rumah tangga Anda.

Pada akhirnya Andalah orang yang paling bertanggung jawab sepenuhnya untuk mengizinkan diri Anda menjadi korban atau pemenang, karena apa yang Anda izinkan untuk diam dalam alam pikiran Anda, itu juga yang akan menentukan bagaimana Anda akan berperilaku. Seorang yang memiliki mental pemenang mengerti dengan jelas posisinya, menyelesaikan masalah yang ada tanpa menunda-nunda dan memperlakukan orang lain disekitarnya termasuk anggota keluarganya tanpa memproyeksikan kemarahannya ataupun frustrasinya dan dapat berkomunikasi dengan jelas tanpa kemarahan.

Penulis mengajak Anda sekalian untuk memikirkan kembali pola komunikasi atau cara Anda berkomunikasi dan pastikan bahwa Anda ingin membuat suatu perubahan yang dapat membawa dampak yang sangat positif dilingkungan dimanapun Anda berada. Jika Anda sudah mengambil suatu inisiatif untuk berubah tapi belum membuahkan hasil, jangan putus asa, kembangkan daya kreatifitas Anda untuk mencapai tujuan akhir Anda yaitu berkomunikasi secara sehat dalam membangun lingkungan yang harmonis.

Penulis

Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD

Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

www.rccla.org

 

 

Be the first to review this item!


Bookmark this

01 Jun 2016


By Harry Lee, M.D., Psy.D.